Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Daisypath - Personal pictureDaisypath Friendship tickers
Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Daisypath - Personal pictureDaisypath Anniversary tickers
Showing posts with label FANTASTIC ARTICLE. Show all posts
Showing posts with label FANTASTIC ARTICLE. Show all posts

19.7.11

Repost : Persembahan untukMU Ayah


Bulir air mata jatuh sesaat setelah selesai saya baca kalimat pertama, dan terus berjatuhan sampai notes ini selesai saya baca. Duhai adindaku, kau selalu membuat mamah dan almarhum papah bangga :) Yang bisa kita lakukan saat ini untuk Papah hanya terus berusaha lebih baik menjadi seorang muslimah, dan juga senantiasa mendoakan beliau (Papah) sehingga insyaAllah kuburnya selalu terang dan lega :) aamiin.

Berikut petikan-petikan kalimat yang adindaku haturkan spesial untuk Papah :

Hmm...
Kalau di inget lagi ini adalah momen ke-3 dalam hidupku yang aku lalui tanpa kehadiran dia....
Di saat anak lain dengan bangganya menunjukkan tanda kelulusannya pa sosok pria besar yang sangar itu...
Justru aku harus tetap tersenyum dan bertanya dalam hati:

"Ayah, banggakah kau padaku?"
"Ayah, peluk aku! Aku sudah dewasa.. Aku lulus yah!!"

Kartu undangan wisuda pun ku tatap hampa...
"Kartu ini untuk 2 orang... Siapa yang akan mendampingi ibuku??"

"Ayah, kau absen lagi dalam moment pentingku,,,,"


Begitu banyak yang tersimpan dalam hati....
Ayah,,,
Kini aku telah dewasa...
Meski berkali2 terjatuh, tertatih, namun kucoba untuk berdiri sendiri di atas kedua kakiku...
Ayah,,,,
Maafkan aku anakmu...
Aku belum sempat membahagiakanmu...
Belum sempat kulihat senyum tegarmu saat ku mengenakan toga ini,besok....
Ayah...
Banggakah kau padaku, anakmu??
Anak yang sewaktu kecil gadis ini begitu nakal, begitu sering dijewer olehmu... ^^
Kini sudah mampu pontang-ponting mencari nafkah untuk hidupku dan yang lain...
Ayah....
Kini aku sudah dewasa, kini aku berjilbab...
Banggakah kamu ayah??
Bahkan dinding terjal yang dulu membuat ku takut,,,
Kini telah kucoba daki ayah....
Ayah... Tak sempat ku kenalkan...
Sahabat-sahabat terbaik yang akan membantuku menemuimu di syurga-Nya nanti...
Ayah...
Tak sempat kuceritakan hari-hari LUAR BIASA yang telah kulalui...
Tak sempat kuceritakan kesedihanku, tawaku padamu,...
Ayah....
Gadis kecilmu kini telah melalui setengah episode penting dalam hidupnya....
Subhanallah... dengan baik!!!^^
Banggakah kau ayah???
Inilah persembahanku untukmu ayah....

Salam,
Anakmu yang mencintaimu karena Allah...

Notes nya diambil dari sini, sementara gambar diambil dari sini.

5.3.11

Repost : Boleh Nggak Saya Manggil Ayah?

Sengaja saya copas karena artikel yang sangat mencerahkan, terutama untuk saya sebagai calon Ibu :) permintaan simple dari seorang anak bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti buat kita, sesuatu yang terlupakan tetapi sangat penting :) Silakan dinikmati!


Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya. Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materilistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.

Setiap tahun, ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina.

“Nina, apa yang anakku mau sayang” begitu ayah saya membuka percakapan. “Nina mau baju baru?, sepatu baru?, tas baru? Atau apa nak?” tambah ayah saya.

“Nggak ah… ntar om marah” jawab Nina.
“nggak sayang, om tidak akan marah” ayah saya menimpali.
”Nggak ah… ntar om marah” Nina mengulang jawabannya.

Ayah saya berpikir, pasti yang diminta Nina adalah sesuatu yang mahal. Rasa keingintahuan orang tua saya semakin menjadi.

Maka dia dekati lagi Nina sambil berkata, ”ayo nak katakan apa yang kamu minta sayang.”

”Tapi janji ya om tidak marah” jawab Nina manja.
”Om janji tidak akan marah sayang” tegas ayah saya.
”Bener om tidak akan marah” sahut Nina agak ragu.

Ayah saya menganggukkan kepala pertanda bahwa ia setuju untuk tidak marah.
Nina menatap tajam wajah ayah saya. Sementara ayah saya berpikir, apa gerangan yang diminta oleh Nina. ’Seberapa mahal sich yang bocah kecil ini minta sampai dia harus meyakinkan bahwa saya tidak akan marah’ pikir ayah saya.

Sambil tersenyum orang tua saya mengatakan, “ayo nak, katakan, jangan takut, om tidak akan marah nak.”

Dengan terus menatap wajah ayah saya, Nina berkata; ”bener ya om tidak marah.???” Sekali lagi ayah saya mengganggukan kepala.

Dengan wajah berharap-harap cemas, Nina mengajukan permintaanya ”om, boleh nggak saya memanggil ayah?”

Mendengar jawaban itu, tak kuasa ayah saya membendung air matanya. Segera dia peluk Nina dan mengatakan ”tentu anakku.. tentu …mulai hari ini Nina boleh memanggil ayah, bukan om.”

Sambil memeluk erat ayah saya, dengan terisak Nina berkata ”terima kasih ayah… terima kasih ayah…”

Hari itu, adalah hari yang tak akan terlupakan buat ayah saya. Dia habiskan waktu beberapa saat untuk bermain dan bercengkrama dengan Nina. Karena merasa belum memberikan sesuatu yang berbentuk material kepada Nina maka sebelum pulang, ayah saya berkata kepada Nina

”Anakku, sebelum lebaran nanti ayah akan datang lagi kemari bersama ibu, apa yang kamu minta nak?”

”Khan udah tadi, Nina sudah boleh memanggil ayah” sergah Nina.

”Nina masih boleh minta lagi sama ayah. Nina boleh minta sepeda, otoped atau yang lain, pasti akan ayah kasih.” Sambil memegang tangan ayah saya, Nina memohon ”nanti kalau ayah datang sama ibu ke sini, saya minta ayah bawa foto bareng ayah, ibu dan kakak-kakak, boleh khan ayah?”

Tiba-tiba kaki orang tua saya lunglai, dia terduduk, bersimpuh di depan Nina. Dia peluk lagi Nina sambil bertanya; ”buat apa foto itu nak?”

Tanpa ragu Nina menjawab “Nina ingin tunjukkan sama temen-temen Nina di sekolah, ini foto ayah Nina, ini ibu Nina, ini kakak-kakak Nina.”

Ayah saya memeluk Nina semakin erat, seolah ia tak mau berpisah dengan seorang bocah yang menjadi guru kehidupan di hari itu. Terima kasih Nina, walau usiamu masih belia kau telah mengajarkan kepada kami tentang makna berbagi cinta.

Berbagilah cinta, karena itu lebih bermakna dibandingkan dengan sesuatu yang kasat mata. Berbagilah cinta, maka kehidupan anda akan lebih bermakna. Berbagilah cinta agar orang lain merasakan keberadaan anda di dunia.

Dikutip dari buku : jamil azzaini

Sumber dari sini dan gambarnya dari sini.

27.1.11

Repost: 3 Bulan Tidak Mampu Memandang Wajah Suami

Dapet email yang merupakan forward cerita dari sepasang suami istri, ceritanya memberikan banyak sekali pembelajaran buat saya, please read for yourself.




Perkawinan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.
Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hamper saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

(Diterjemahkan dari kisahk yang dituturkan oleh teman tokoh cerita ini, yang kemudian ia tulis dalam email dan disebarkan kepada kawan-kawannya)

Sumber artikel: forward email, mengambil gambar dari sini

14.10.10

Belajarlah dari Matahari

Anakku, lihatlah matahari itu
Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya
Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya

Anakku, janganlah kau putus asa
Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali
Songsonglah masa depan dengan semangat membara
Tanpa kenal lelah dan pudar
Karena dengannya kau akan menjadi mulia

Anakku, kau lihat matahari itu sangat tinggi
Tetapi ia masih mau membantu bumi
Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas
Janganlah lupa kepada yang di bawah
Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah

Anakku, matahari itu tidak lupa diri
Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta
Ia juga memberikan cahaya pada dirinya
Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin
Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan
Tetapi jadilah seperti matahari
Yang memberikan cahaya bagi orang lain
Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.

Washington DC, 2010

Sumber dari sini

29.6.10

Hikmah #3

Abu Bakar Al-Hudzali berkata, “Ada wanita tua dari Bani Abdul Qais yang rajin beribadah. Dia berkata, “Bersikaplah yang baik kepada Allah sesuai dengan kadar nikmat dan kebaikan-Nya kepada kalian. Jika kalian tidak mampu, maka sesuai dengan kadar perlindungan-Nya. Jika kalian tidak mampu, maka atas dasar rasa malu kepada-Nya. Jika kalian tidak mampu, maka atas dasar harapan akan pahala-Nya. Jika kalian tidak mampu, maka atas dasar takut dari ancaman siksa-Nya.” Dia melanjutkan, “Sesungguhnya hati yang keras apabila ia telah mengering maka ia hanya bisa dilunakkan oleh gambaran kematian. Seolah-olah diriku melihat kepada penghuni kubur telah keluar dari timbunannya, kepada wajah-wajah yang berlumuran debu, kepada jasad-jasad yang telah berbau. Benar-benar pemandangan yang menakutkan. Seandainya manusia mengambil pelajaran darinyadengan hati mereka, betapa pahitnya bagi jiwa dan betapa kerasnya ia melenyapkan tubuh-tubuh.”

Sumber: 10 Sifat Bidadari Dunia, Cetakan ke-4. Penerbit eLBA.

28.6.10

Hikmah #2

Dzun Nun Al-Misri melihat Fatimah An-Naisaburiyah di Mekkah Al-Mukarramah sedang berbicara tentang pemahaman Al-Quran, Dzun Nun kagum kepadanya. Dia mendengarnya berkata, “Barangsiapa yang Allah tidak ada di pikirannya, maka dia akan melangkah di semua medan dan berbicara dengan semua ucapan. Dan barangsiapa yang Allah ada di benaknya, niscaya dia akan diam kecuali dari kejujuran. Dia akan selalu bersikap malu dan ikhlas.” Dia berkata, “Orang yang benar dan dekat dengan Allah laksana orang yang diguncang-guncang ombak di laut. Dia berdoa kepada Tuhannya seperti orang yang tenggelam. Dia memohon kepada Tuhannya keselamatan.”

Sumber: 10 Sifat Bidadari Dunia, Cetakan ke-4. Penerbit eLBA.

23.6.10

Hikmah #1

Dari Abu Abdur Rahman Al-Maghazili bahwa seorang wanita ahli hikmah yang tinggal di Mekah memberi nasihat. Dia berkata, "Bayangkanlah Kiamat di depan mata hati kalian. Tengoklah diri kalian! Apa amal-amal yang telah kalian kerjakan? Apa yang menurut kalian bahwa ia diterima di hari itu. Maka berharaplah kepada Allah agar diterima dan diberikan kesempurnaan nikmat di dalamnya. Dan apa yang kalian takutkan untuk ditolak pada hari itu, maka mulailah memperbaikinya sekarang. Jangan melalaikan diri kalian, karena amal kalian bisa tertolak dimana tidak ada pengganti dan tidak diterima tebusan."

Dia berkata, "Baik dan rusaknya badan hanya terdapat pada baik buruknya niat. Saudara-saudaraku, orang-orang yang bertakwa memperoleh kecintaan (manusia), karena kecintaan mereka kepada-Nya dan ibadah mereka hanya kepada-Nya."

Dia melanjutkan, "kalau bukan karena Allah, niscaya mereka tidak memperoleh itu. Akan tetapi mereka mencintai Allah dan Rasul-Nya, maka Allah membuat hamba-hamba-Nya mencintai mereka, karena kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya."

Saudara-saudaraku, sejauh mana kalian berpaling dari Allah, sejauh itu pula Allah berpaling dari kalian dengan kebaikan-Nya. Dan sejauh mana kalian menghadap kepada-Nya, maka Dia pun akan menghadap kepada kalian dan menambah karunia-Nya kepada kalian. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Pemurah.

Sumber: 10 Sifat Bidadari Dunia, Cetakan ke-4. Penerbit eLBA.


Subhanallah...
Hati saya sangat tersentuh dengan cerita ini, mind opening banget karena membuat saya kembali bermuhasabah apa yang sudah saya lakukan ke belakang, apakah sesuatu yang baik? Atau malah sebaliknya? Sekelebat peristiwa langsung terbayang di kepala, mengingat-ingat masa lalu baik itu bahagia, sedih, kecewa, seneng, marah, kesel, semuanya untuk saya adalah nikmat Allah, nikmat kecil ataupun besar yang sejatinya merupakan arti hidup yang sesungguhnya. karena kita ga melulu bisa happy kan??? Harus juga dong ngerasain yang namanya sedih, kesel, kecewa, dan perasaan negatif lain, sehingga hidup kita makin kaya :D

Semoga saja percikan di atas juga bisa memberikan warna untuk kalian yang membacanya :)

7.2.10

Arisan Dinar

Beberapa bulan yang lalu saya sempet diskusi mengenai "dinar", bagaimana dinar merupakan salah satu alat tukar perniagaan yang tidak terpengaruh inflasi, walo tetep kepengaruh sama yang namanya kurs. Konon katanya alat tukar ini berupa emas. But... saya belum berani memaparkan seperti apa karena belum paham banget.

Seminggu kemarin sempet baca artikel di fb, judulnya : "Arisan Dinar". Kalo pada umumnya arisan itu sendiri tuh wadah dimana beberapa orang mengumpulkan sejumlah uang sesuai kesepakatan, lalu diberikan uang yang terkumpul (atau barang) kepada orang yang telah ditentukan bersama, biasanya namanya didapat dari hasil kocokan kertas yang berisi semua anggota. Begitu terus diulang sampai setiap anggota mendapatkan giliran. Hanya bedanya, biasanya uang yang dikumpulkan selalu sama dari tiap periode ke periode berikutnya, pada arisan dinar ini jumlah yang disetorkan mengikuti harga dinar yang berlaku pada tanggal penyetoran.

Saya kutip contoh kasusnya :

Jumlah peserta arisan = 10 orang
Harga dinar sewaktu tanggal penyetoran (misalnya hari ini) = 1.433.000
Besarnya yg harus disetor setiap peserta = 1/10 harga dinar = 143.300

Untuk bulan depannya, misalnya harga dinar 1.415.000 berarti yang harus disetorkan setiap peserta adalah 141.500, begitu seterusnya. Para peserta dapat melihat sendiri harga dinar yang berlaku di situs www.wakalanusantara.com yang selalu up to date setiap harinya.

Keuntungan arisan dinar ini yaitu seperti sedang menabung dinar, karena untuk membeli 1 keping dinar, yaitu emas seberat 4.25 gram lumayan berat juga. Tapi dengan dicicil setiap bulannya 1/10 harga dinar, hanya dalam jangka waktu 10 bulan sudah bisa membeli 1 keping dinar. Karena jika kita kumpulkan uang setiap bulannya untuk membeli 1 keping dinar 10 bulan kemudian, belum tentu harga dinar masih sama dengan hari ini. Dengan mengikuti arisan dinar ini, kita dapat membeli 1 dinar dengan harga rata-rata dinar selama 10 bulan.


Subhanallah... saya pikir ini salah satu bentuk arisan yang menjanjikan, selain tujuan arisan adalah tetap menjalin silaturahim selain itu kita dapet keuntungan secara ga langsung, yaitu menabung dinar!
MyEm0.Com

Jadi pengen... ngajakin anak-anak Blogor pada mau gag yaaaa...???

25.12.09

10 MATA PEDANG SEDEKAH

Ketemu artikel menarik..... dapet dari sini, dan must-read article untuk sayah, semoga bisa bermanfaat juga untuk yang lain :)

Hadist, dan atsar shahabah disebutkan beberapa keutamaan sedekah dan orang yang melakukannya. Baca dan renungilah dalil-dalil dibawah ini, semoga Allah memberi hidayah sehingga sikap bakhil dan kikir tidak bersemayam didalam hati kita dan segera diganti dengan sikap suka memberi.

1. Amalan yang Utama

Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Tangan diatas adalah yg memberi dan tangan di bawah adalah yang menerima”(HR. Muslim)

Umar Bin Khathtab pernah berkata:
“Sesungguhnya amalan-amalan itu saling membanggakan diri satu sama lain, maka sedekahpun berkata (kepada amalan- amalan lainnya),’Akulah yang paling utama diantara kalian"


2. Melindungi Dari Bencana

Rasulullah SAW pernah bersabda seperti dibawah ini:
“Obatilah orang sakit diantara kalian dg sedekah”

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah mengatakan:
“Sesungguhnya sedekah bisa memberikan pengaruh yg menakjubkan utk menolak berbagai macam bencana sekalipun pelakunya orang yang fajir (pendosa), zhalim atau bahkan orang kafir, karena Allah SWT akan menghilangkan berbagai macam bencana dengan perantara sedekah tersebut…”


3. Berlipat Ganda Pahalanya

Allah SWT telah berfirman:
“Perumpamaan (infak yg dikeluarkan oleh) orang-orang yg menginfakan hartanya di jalan Allah adalah serupa dg sebutir benih yg menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiapbulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yg Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui(QS.Al-Baqarah:261)

Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barangsiapa bersedekah senilai satu biji kurma yg berasal dari mata pencaharian yg baik—dan Allah tidak akan menerima kecuali yg baik—maka sesungguhnya Allah akan menerimanya dg tangan kanan-Nya, kemudian dipelihara untuk pemiliknya, sebagaimana seseorang diantara kalian memelihara anak kuda, sehingga sedekah itu menjadi (besar) seperti gunung”


4. Dapat Menghapus Dosa dan Kesalahan

Rasul SAW bersabda:
“Bersedekahlah kalian, meski hanya dg sebiji kurma. Sebab, sedekah dapat memenuhi kebutuhan orang yang kelaparan, dan memadamkan kesalahan, sebagaimana air memadamkan api”

Beliau juga menasehatkan kepada para pedagang:
“Wahai sekalian pedagang,sesungguhnya setan dan dosa menghadiri jual beli kalian, maka sertailah jual beli kalian dengan sedekah.”


5. Menjadikan Harta Berkah dan Terus Berkembang

Allah SWT berfirman:
“Katakanlah,’Sesungguhnya Rabb-ku melapangkan rejeki bagi siapa yg dikehendaki diantara hamba-hambaNya dan menyempitkan bagi (siapa yg dikehendaki-Nya).
Dan apa yg kamu infakkan, maka Allah akan menggantinya dan Dialah pemberi rejeki sebaik-baiknya.(QS.Saba’:39)

Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah akan mengembangkan sedekah kurma atau sepotong makanan dari seorang diantara kalian, sebagaimana seseorang diantara kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga sedekah tersebut menjadi besar seperti bukit Uhud”


6. Melapangkan Jalan ke Surga dan Menyumbat Jalan ke Neraka

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yg luasnya seluas langit dan bumi yg di sediakan utk orang-orang yg bertakwa. (Yaitu) orang-orang yg menginfakkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yg menahan amarahnya dam memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang yg berbuat kebajikan.”(QS. Ali Imron:133-134)

Rasulullah SAW bersabda:
“Buatlah penghalang antara dirimu dan api neraka walau hanya dg separuh butir kurma.”


7. Menjadi Bukti Keimanan

Di dalam sebuah Hadits Rasulullah bersabda:
“Sedekah adalah menjadi burhan(bukti).” (HR.Muslim)
Maksudnya, sedekah adalah bukti keimanan pelakunya.Sesungguhnya orang munafik menolak keberadaan sedekah karena tidak meyakininya. Barangsiapa yg mau bersedekah, maka hal itu menunjukkan kebenaraan imannya.

Rasul SAW juga bersabda:
“Sifat iman dan kikir tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.”



8. Membawa Keberuntungan dan Merupakan Pintu Gerbang Semua Kebaikan

Allah SWT berfirman :
“Dan barang siapa yg dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yg beruntung.”
(QS. Al Hasyr:9)

Dalam ayat lain, Allah juga menegaskan:
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menginfakkan sebahagian harta yg kamu cintai, dan apa saja yg kamu infakkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.”( QS.Ali Imran:92)



9. Akan Mendapat Naungan di Padang Mahsyar

Sedekah akan menolong pelakunya dari kesengsaraan dalam perjalanan menuju alam akhirat, Rasulullah SAW bersabda:
“Setiap orang akan berada dibawah naungan sedekahnya, hingga diputuskannya perkara-perkara diantara manusia”

Didalam hadits lain Beliau juga bersabda:
“Naungan seorang mukmin di hari kiamat adalah sedekahnya”(Shahih Ibnu Khuzaimah 4/95)



10. Pahalanya Akan Mengalir Terus Walaupun Telah Mati

Rasul SAW bersabda:
“Pahala amalan dan kebaikan yg bakal menghampiri seorang mukmin sepeninggalnya—Beliau menyebutkan diantaranya--,(yakni)musyaf yg ia tinggalkan,masjid yg ia bangun,rumah untuk orang yg dalam perjalanan yg ia bangun, sungai yg ia alirkan, atau sedekah yg ia keluarkan dari hartanya dikala sehat dan hidupnya, maka ia akan bakal menghampirinya sepeninggalnya.”

21.7.09

ANOTHER SPECIAL ARTICLE

Tidak seperti biasanya, salah satu notification yang ada dari sekian banyak yang tercantum disana adalah teman lama saya men-tag saya untuk membaca salah satu artikel dari sekian banyak artikel yang dia copy paste or dia buat sendiri. Dari judulnya memang biasa saja, "Mari Merenung Sejenak", tapi yang membuat saya tertarik adalah tidak biasanya dia men-tag saya di facebook. "Alright then!" saya pikir, saya baca aja, gak ada ruginya ^_^

Setelah saya baca, tak terasa air mata ini menetes (dasar perempuan...!!!) karena artikel ini bener-bener menjadi tambahan artikel favorit saya. Di satu sisi, saya menjadi tahu sisi lain seorang Andi Noya, di sisi lain kita semua emang harus selalu belajar memaksakan diri kita untuk selalu berkaca pada diri sendiri, selalu bermuhasabah dengan apa yang telah kita lakukan ke belakang... apakah banyak manfaatnya? Or masih ada mudharat disana dan disini?

Subhanallah! Alhamdulillah ya Allah... Artikel ini kembali merupakan bahan pembelajaran untukku. Percaya atau tidak, dulu aku juga memiliki pemikiran yang sama seperti Bapak Andy Noya... bedanya saya tidak bisa mendeskripsikannya sebaik beliau ke dalam tulisan ;p Artikel ini wajib banget buat dibaca, so... saya copy paste artikelnya untuk kalian baca.

Kaca Spion (Catatan Andy Noya (kick Andy))....

Sejak bekerja saya tidak pernah lagi berkunjung ke Perpustakaan Soemantri
Brodjonegoro di Jalan Rasuna Said, Jakarta . Tapi, suatu hari ada kerinduan dan dorongan yang luar biasa untuk ke sana . Bukan untuk baca buku, melainkan makan gado-gado di luar pagar perpustakaan. Gado-gado yang dulu selalu membuat saya ngiler. Namun baru dua tiga suap, saya merasa gado-gado yang masuk ke mulut jauh dari bayangan masa lalu. Bumbu kacang yang dulu ingin saya jilat sampai piringnya mengkilap, kini rasanya amburadul. Padahal ini gado-gado yang saya makan dulu. Kain penutup hitamnya sama. Penjualnya juga masih sama. Tapi mengapa rasanya jauh berbeda? malamnya, soal gado-gado itu saya ceritakan kepada istri. Bukan soal rasanya yang mengecewakan, tetapi ada hal lain yang membuat saya gundah.

Sewaktu kuliah, hampir setiap siang, sebelum ke kampus saya selalu mampir ke
perpustakaan Soemantri Brodjonegoro. Ini tempat favorit saya. Selain karena harus menyalin bahan-bahan pelajaran dari buku-buku wajib yang tidak mampu saya beli, berada di antara ratusan buku membuat saya merasa begitu bahagia.

Biasanya satu sampai dua jam saya di sana . Jika masih ada waktu, saya melahap buku-buku yang saya minati. Bau harum buku, terutama buku baru, sungguh membuat pikiran terang dan hati riang. Sebelum meninggalkan perpustakaan, biasanya saya singgah di gerobak gado-gado di sudut jalan, di luar pagar. Kain penutupnya khas, warna hitam. Menurut saya, waktu itu, inilah gado-gado paling enak seantero Jakarta. Harganya Rp 500 sepiring sudah termasuk lontong. Makan sepiring tidak akan pernah puas. Kalau ada uang lebih, saya pasti nambah satu piring lagi. Tahun berganti tahun. Drop out dari kuliah, saya bekerja di Majalah TEMPO sebagai reporter buku Apa dan Siapa Orang Indonesia . Kemudian pindah menjadi reporter di Harian Bisnis
Indonesia . Setelah itu menjadi redaktur di Majalah MATRA. Karir saya terus
meningkat hingga menjadi pemimpin redaksi di Harian Media Indonesia dan Metro TV.

Sampai suatu hari, kerinduan itu datang. Saya rindu makan gado-gado di sudut
jalan itu. Tetapi ketika rasa gado-gado berubah drastis, saya menjadi gundah. Kegundahan yang aneh. Kepada istri saya utarakan kegundahan tersebut. Saya risau saya sudah berubah dan tidak lagi menjadi diri saya sendiri. Padahal sejak kecil saya berjanji jika suatu hari kelak saya punya penghasilan yang cukup, punya mobil sendiri, dan punya rumah sendiri, saya tidak ingin berubah. Saya tidak ingin menjadi sombong karenanya.

Hal itu berkaitan dengan pengalaman masa kecil saya di Surabaya . Sejak kecil saya benci orang kaya. Ada kejadian yang sangat membekas dan menjadi trauma masa kecil saya. Waktu itu umur saya sembilan tahun. Saya bersama seorang teman berboncengan sepeda hendak bermain bola. Sepeda milik teman yang saya kemudikan menyerempet sebuah mobil. Kaca spion mobil itu patah..

Begitu takutnya, bak kesetanan saya berlari pulang. Jarak 10 kilometer saya
tempuh tanpa berhenti. Hampir pingsan rasanya. Sesampai di rumah saya langsung bersembunyi di bawah kolong tempat tidur. Upaya yang sebenarnya sia-sia. Sebab waktu itu kami hanya tinggal di sebuah garasi mobil, di Jalan Prapanca. Garasi mobil itu oleh pemiliknya disulap menjadi kamar untuk disewakan kepada kami. Dengan ukuran kamar yang cuma enam kali empat meter, tidak akan sulit menemukan saya.. Apalagi tempat tidur di mana saya bersembunyi adalah satu-satunya tempat tidur di ruangan itu. Tak lama kemudian, saya mendengar keributan di luar. Rupanya sang pemilik mobil
datang. dengan suara keras dia marah-marah dan mengancam ibu saya. Intinya dia meminta ganti rugi atas kerusakan mobilnya.

Pria itu, yang cuma saya kenali dari suaranya yang keras dan tidak bersahabat, akhirnya pergi setelah ibu berjanji akan mengganti kaca spion mobilnya. Saya ingat harga kaca spion itu Rp 2.000. Tapi uang senilai itu, pada tahun 1970, sangat besar.. Terutama bagi ibu yang mengandalkan penghasilan dari menjahit baju. Sebagai gambaran, ongkos menjahit baju waktu itu Rp 1.000 per potong.. Satu baju memakan waktu dua minggu. Dalam sebulan, order jahitan tidak menentu. Kadang sebulan ada tiga, tapi lebih sering cuma satu. Dengan penghasilan dari menjahit itulah kami - ibu, dua kakak, dan saya - harus bisa bertahan hidup sebulan.

Setiap bulan ibu harus mengangsur ganti rugi kaca spion tersebut. Setiap akhir bulan sang pemilik mobil, atau utusannya, datang untuk mengambil uang. Begitu berbulan-bulan. Saya lupa berapa lama ibu harus menyisihkan uang untuk itu.. Tetapi rasanya tidak ada habis-habisnya. Setiap akhir bulan, saat orang itu datang untuk mengambil uang, saya selalu ketakutan. Di mata saya dia begitu jahat. Bukankah dia kaya? Apalah artinya kaca spion mobil baginya? Tidakah dia berbelas kasihan melihat kondisi ibu dan kami yang hanya menumpang di sebuah garasi?

Saya tidak habis mengerti betapa teganya dia. Apalagi jika melihat wajah ibu juga gelisah menjelang saat-saat pembayaran tiba. Saya benci pemilik mobil itu. Saya benci orang-orang yang naik mobil mahal. Saya benci orang kaya.

Untuk menyalurkan kebencian itu, sering saya mengempeskan ban mobil-mobil mewah. Bahkan anak-anak orang kaya menjadi sasaran saya. Jika musim layangan, saya main ke kompleks perumahan orang-orang kaya. Saya menawarkan jasa menjadi tukang gulung benang gelasan ketika mereka adu layangan. Pada saat mereka sedang asyik, diam-diam benangnya saya putus dan gulungan benang gelasannya saya bawa lari. Begitu berkali-kali. Setiap berhasil melakukannya, saya puas. Ada dendam yang terbalaskan.
Sampai remaja perasaan itu masih ada. Saya muak melihat orang-orang kaya di
dalam mobil mewah. Saya merasa semua orang yang naik mobil mahal jahat. Mereka orang-orang yang tidak punya belas kasihan. Mereka tidak punya hati nurani.

Nah, ketika sudah bekerja dan rindu pada gado-gado yang dulu semasa kuliah begitu lezat, saya dihadapkan pada kenyataan rasa gado-gado itu tidak enak di lidah. Saya gundah. Jangan-jangan sayalah yang sudah berubah. Hal yang sangat saya takuti. Kegundahan itu saya utarakan kepada istri. Dia hanya tertawa. ''Andy Noya, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau gado-gado langgananmu dulu tidak lagi nikmat, itu karena sekarang kamu sudah pernah merasakan berbagai jenis makanan. Dulu mungkin kamu hanya bisa makan gado-gado di pinggir jalan. Sekarang, apalagi sebagai wartawan, kamu punya kesempatan mencoba makanan yang enak-enak. Citarasamu sudah meningkat,'' ujarnya. Ketika dia melihat saya tetap gundah, istri saya mencoba meyakinkan, "Kamu berhak untuk itu. Sebab kamu sudah bekerja keras." Tidak mudah untuk untuk menghilangkan perasaan bersalah itu.. Sama sulitnya dengan meyakinkan diri saya waktu itu bahwa tidak semua orang kaya itu jahat. Dengan karir yang terus meningkat dan gaji yang saya terima, ada ketakutan saya akan berubah. Saya takut perasaan saya tidak lagi sensisitif. Itulah kegundahan hati saya setelah makan gado-gado yang berubah rasa. Saya takut bukan rasa gado-gado yang berubah, tetapi
sayalah yang berubah. Berubah menjadi sombong.

Ketakutan itu memang sangat kuat. Saya tidak ingin menjadi tidak sensitif. Saya tidak ingin menjadi seperti pemilik mobil yang kaca spionnya saya tabrak. Kesadaran semacam itu selalu saya tanamkan dalam hati. Walau dalam kehidupan sehari-hari sering menghadapi ujian. Salah satunya ketika mobil saya ditabrak sepeda motor dari belakang. Penumpang dan orang yang dibonceng terjerembab. Pada siang terik, ketika jalanan macet, ditabrak dari belakang, sungguh ujian yang berat untuk tidak marah. Rasanya ingin melompat dan mendamprat pemilik motor yang menabrak saya. Namun, saya terkejut ketika menyadari yang dibonceng adalah seorang ibu tua dengan kebaya lusuh.
Pengemudi motor adalah anaknya. Mereka berdua pucat pasi. Selain karena terjatuh, tentu karena melihat mobil saya penyok. Hanya dalam sekian detik bayangan masa kecil saya melintas. Wajah pucat itu serupa dengan wajah saya ketika menabrak kaca spion.

Wajah yang merefleksikan ketakutan akan akibat yang harus mereka tanggung. Sang ibu, yang ecet-lecet di lutut dan sikunya, berkali-kali meminta maaf atas keteledoran anaknya. Dengan mengabaikan lukanya, dia berusaha meluluhkan hati saya. Setidaknya agar saya tidak menuntut ganti rugi. Sementara sang anak terpaku membisu. Pucat pasi. Hati yang panas segera luluh. Saya tidak ingin mengulang apa yang pernah terjadi pada saya. Saya tidak boleh membiarkan benih kebencian lahir siang itu. Apalah artinya mobil yang penyok berbanding beban yang harus mereka pikul. Maka saya bersyukur. Bersyukur pernah berada di posisi mereka. Dengan begitu saya bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Setidaknya siang itu saya tidak ingin lahir sebuah benih kebencian. Kebencian seperti yang pernah saya rasakan dulu. Kebencian yang lahir dari pengalaman hidup yang pahit.

Refleksi:
Mengapa harus sombong dengan kekayaan yang kita miliki, karena kekayaan tiada berguna sama sekali, lebih baik menghidupkan lagi rasa toleransi yang ada pada diri untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik.